Materi Akhir Diklat Jurnalistik FJRK Terkait Pemberitaan Ramah Anak
KANALSUMATERA.com - Bangkinang - Diklat Jurnalistik yang digelas oleh Forum Jurnalis Remaja Kampar memasuki materi terakhir. Diklat ini atas kerjasama insan pers dan Diskominfo yang dilaksanakan di SMA Negeri 1 Bangkinang Kota, Sabtu (6/11/2021).
Materi terakhir pertemuan ini yaitu materi terkait Pedoman Pemberitaan Ramah Anak (PPRA) yang disampaikan oleh wartawan senior Mawardi Tombang selaku narasumber.
Mawardi menjelaskan mengenai pedoman pemberitaan ramah anak bagi para jurnalis yang tujuan utamanya untuk melindungi masa depan anak, agar tidak terjadi perubahan perilaku membentuk perilaku negatif pada anak dan tidak terpengaruh kepada hal-hal menyimpang dari peristiwa yang diberitakan.
Dia menyampaikan tentang posisi anak dalam objek sebuah kasus di antaranya sebagai pelaku, korban maupun korban terkait. Dalam posisi apapun seorang anak dalam peristiwa yang akan diberitakan harus dilindungi. Perlindungan tersebut dalam bentuk identitas anak yang disamarkan.
Baca: Pemkab Bengkalis Usulkan 5 Lokasi Pembangunan Sekolah Nasional Terintegrasi, Ini Daerah Prioritasnya
"Karya jurnalistik harus memastikan anak-anak yang terkait objek pemberitaan identitasnya harus dilindungi. Jangan sampai dampak negatif menimpa anak ke depannya" kata Mawardi.
Untuk itulah jurnalis harus memahami Pedoman Pemberitaan Ramah Anak (PPRA) yang berdasarkan pada UU nomor 34 tahun 2014 tentang perlindungan anak.
Dalam menulis berita anak yang menjadi korban harus dilindungi identitasnya seperti menginisialkan nama anak tersebut untuk menghindari labelisasi sesuai pasal 64 ayat 3.
Sebelum mengakhiri materi Mawardi memberikan tugas kepada seluruh peserta untuk membuat narasi dari kerangka umum tentang contoh kejadian yang diberikan pemateri.
Baca: Witama Cup ke-8 Resmi Digelar: Ajang Kreativitas Siswa Satukan Sport, Seni, dan Teknologi
Setelah itu, dia memanggil para peserta satu per satu lalu mengoreksi narasi masing-masing peserta. Dalam penilaiannya berita yang dibuat untuk seusia peserta ini menurutnya sudah masuk kategori baik.
Di sisi lain anggota tim, Aprizal mengingatkan tentang jenis media yang ada diantaranya media cetak, televisi, online, baik media nasional maupun lokal dan juga organisasi wartawan yang ada di Indonesia ada bermacam-macam.
Sementara itu Adi Jondri selaku panitia juga menambahkan penjelasan kepada para peserta mengenai jenis wawancara yakni jumpa pers, wawancara cegat dan wawancara tertulis agar dasar wawancara tersebut benar-benar diingat oleh peserta.
Sementara itu, Koordinator tim Netty Mindrayani menambahkan tentang bagaimana menjadi seorang fotografer jurnalistik yang baik harus memiliki mental dan keberanian.
Baca: FORMA KIP-Kuliah UIN Suska Riau Audiensi dengan Kadispora Riau, Program PORDISNAS Dapat Apresiasi
"Sekalipun anda pandai dalam menggunakan kamera tapi tidak punya mental maka tidak akan bisa menghasilkan sebuah foto yang bagus, maka harus memiliki mental berani khususnya bagi jurnalis yang ingin memfokuskan diri dalam bidang fotografi" tegas Nety kepada peserta.
Untuk menutup materi jurnalistik oleh FJRK kali ini, panitia akan melakukan praktek lapangan bagi seluruh peserta untuk mewawancarai Bupati Kampar atau Kadis Pendidikan Kabupaten Kampar mengakhiri pelatihan jurnalistik angkatan pertama ini. (Zora Anjani)
