Hasil TKA SD SMP 2026 Disorot Kritis, Pakar: Numerasi Indonesia Bermasalah Sistemik
KANALSUMATERA.com - Jakarta – Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 jenjang SD dan SMP yang dirilis Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) tidak hanya memotret capaian siswa, tetapi juga membuka kembali persoalan lama pendidikan Indonesia yaitu lemahnya kemampuan numerasi yang bersifat sistemik.
Data resmi menunjukkan nilai Matematika masih tertinggal jauh dibanding Bahasa Indonesia. Di tingkat SMP, rata-rata bahkan hanya berada di kisaran 40-an, sementara literasi berada di angka 60-an. Kondisi ini memicu kritik dari sejumlah pakar pendidikan nasional.
Pakar: Ini Bukan Sekadar Hasil Ujian
Pengamat Pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta, Prof. Fasli Jalal, menilai rendahnya capaian matematika bukan persoalan teknis semata, melainkan kegagalan sistem pembelajaran.
Baca: Witama Cup ke-8 Resmi Digelar: Ajang Kreativitas Siswa Satukan Sport, Seni, dan Teknologi
“Kalau numerasi terus rendah dari tahun ke tahun, berarti ada yang salah dalam cara kita mengajar, bukan pada anak-anaknya,” ujarnya dalam berbagai forum pendidikan nasional.
Menurutnya, pembelajaran matematika di Indonesia masih terlalu berorientasi pada hafalan rumus, bukan pada pemahaman konsep dan logika.
Najelaa Shihab: Sekolah Terlalu Fokus Nilai, Bukan Proses
Sementara itu pendiri Komunitas Pendidikan Najelaa Shihab juga menyoroti bahwa hasil seperti TKA sering kali tidak diikuti perubahan nyata di ruang kelas.
Baca: STIE Bangkinang Gelar Tes Masuk Camaba Gelombang I TA 2026/2027
“Masalah kita bukan kekurangan asesmen, tapi bagaimana hasil asesmen itu benar-benar dipakai untuk memperbaiki pembelajaran,” kata Najelaa dalam diskusi pendidikan.
Ia menilai pendekatan pendidikan masih terlalu fokus pada hasil angka, bukan proses berpikir siswa. Hal ini berdampak langsung pada rendahnya kemampuan problem solving, terutama di matematika.
