Hendry Munief Dukung Politeknik Teknologi Modern (PTM) Indonesia, Jawab Kebutuhan Industri Riau
KANALSUMATERA.com - PEKANBARU — Anggota Komisi VII DPR RI, Hendry Munief MBA, menyambut baik rencana pembentukan Politeknik Teknologi Modern (PTM) Indonesia oleh Yayasan Amaliah Thayyibah Barokah. Kehadiran perguruan tinggi vokasi tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk menjawab kebutuhan tenaga kerja terampil yang terus berkembang seiring pertumbuhan sektor industri di Riau.
Hal itu disampaikan Hendry Munief saat menerima silaturahmi Tim Yayasan Amaliah Thayyibah Barokah di Ruang Meeting Hasanah Guest House, Sabtu (26/9/2026). Pertemuan tersebut membahas persiapan pembentukan PTM Indonesia sekaligus konsep pendidikan vokasi yang memiliki keterkaitan langsung dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.
Hendry mengatakan, berdasarkan berbagai kunjungan dan silaturahmi yang dilakukannya dengan pelaku industri maupun lembaga pendidikan vokasi, masih ditemukan adanya kesenjangan antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja.
“Pendidikan vokasi saat ini belum menjawab kebutuhan sektor industri. diperlukan sebuah jembatan yang dapat menghubungkan lembaga pendidikan dengan dunia usaha dan industri. Dengan demikian, pendidikan vokasi tidak hanya menghasilkan lulusan berdasarkan kurikulum akademik, tetapi juga mampu menciptakan sumber daya manusia yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan lapangan,” ujar Hendry Munief.
Hendry Munief menilai Riau memiliki potensi lapangan pekerjaan yang besar, terutama pada berbagai sektor strategis. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan kesiapan lembaga pendidikan vokasi dalam memenuhi standar kompetensi yang dibutuhkan industri.
Baca: Keluarga Korban Dugaan Pemalsuan Tanda Tangan di SDN 04 Pulau Birandang Lapor ke Sejumlah Instansi
Karena itu, ia menyarankan agar PTM Indonesia sejak awal membangun kerja sama yang kuat dengan dunia usaha dan industri melalui skema link and match.
“Saya menyarankan agar lembaga pendidikan vokasi terlebih dahulu melakukan MoU dengan dunia usaha dan menyelaraskan penciptaan SDM dengan kebutuhan dunia usaha,” kata Hendry.
Selain mendorong penguatan keterkaitan antara pendidikan vokasi dan dunia industri, Hendry juga menyatakan akan membantu memfasilitasi proses pembentukan PTM Indonesia.
Ia mengatakan akan mengupayakan pertemuan dan komunikasi antara Yayasan Amaliah Thayyibah Barokah dengan anggota Komisi X DPR RI yang membidangi sektor pendidikan, khususnya perguruan tinggi.
Menurut Hendry, fasilitasi tersebut diperlukan agar berbagai kendala yang dihadapi yayasan dalam proses pembentukan perguruan tinggi dapat dikomunikasikan dengan pihak yang memiliki kewenangan dan perhatian langsung terhadap sektor pendidikan tinggi.
Baca: BKPRMI Riau Apresiasi Pemko Pekanbaru Perkuat Pendidikan Agama
Hendry Munief juga menegaskan bahwa upaya fasilitasi tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi PTM Indonesia. Calon perguruan tinggi lainnya yang mengalami kendala dalam proses pendirian juga dapat difasilitasi untuk mendapatkan akses komunikasi dan koordinasi dengan pihak terkait.
Dengan demikian, menurut Hendry, persoalan pengembangan pendidikan tinggi tidak hanya dilihat dari satu lembaga, tetapi sebagai bagian dari upaya bersama untuk memperkuat ekosistem pendidikan dan menyiapkan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan.
Sementara itu, Ketua Yayasan Amaliah Thayyibah Barokah, Tarmidzi Madjid, menjelaskan bahwa rencana pembentukan PTM Indonesia dilatarbelakangi kebutuhan industri di Riau terhadap sumber daya manusia yang memiliki keterampilan teknis.
Menurut Tarmidzi, sektor industri kelapa sawit, minyak dan gas bumi, teknologi informatika, hingga teknik sipil memiliki kebutuhan tenaga kerja yang cukup besar. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan yayasan mengambil peran dalam pengembangan pendidikan vokasi di Riau.
“Terima kasih telah menerima silaturahmi tim Yayasan Amaliah Thayyibah Barokah dalam rangka pembentukan Politeknik Teknologi Modern (PTM) Indonesia,” ujar Tarmidzi.
Baca: MAN 1 Pekanbaru Kirim Tujuh Peserta ke OSN Nasional 2026 Wakili Riau
Ia menjelaskan, pada awalnya yayasan berencana mendirikan institut. Namun, rencana tersebut belum dapat direalisasikan karena masih adanya moratorium dari pemerintah.
Karena itu, yayasan memilih jalur pendidikan vokasi melalui pembentukan politeknik. Tarmidzi menyebut sektor pendidikan di Riau memiliki potensi yang sangat besar, namun sebagian peluang tersebut saat ini masih banyak diisi oleh pihak dari luar daerah.
“Kami termotivasi untuk mengambil peran. Untuk itu kami berharap bapak Hendry Munief dapat memberikan dukungan terhadap proses pembentukan PTM Indonesia, terutama dalam hal komunikasi dan koordinasi dengan pemerintah pusat dan juga pelaku industri." katanya.
Dalam pertemuan tersebut, Konsultan Lembaga Riset Publik Indonesia, M Rizal, menyampaikan bahwa berbagai persyaratan untuk pembentukan PTM Indonesia saat ini telah dipenuhi. Rencananya, terdapat empat program studi yang akan dibuka.
Yayasan Amaliah Thayyibah Barokah menargetkan pengajuan pendaftaran PTM Indonesia ke LLDIKTI pada Oktober 2026.
Baca: Abdul Kasim Desak Pemprov Riau Tuntaskan Status Lahan Sekolah Eks Caltex
Gagasan link and match antara pendidikan vokasi dan dunia industri juga mendapat dukungan dari peserta pertemuan.
Amirudin menyatakan perlunya menindaklanjuti konsep tersebut agar kerja sama antara lembaga pendidikan dan dunia usaha dapat benar-benar diwujudkan. Ia juga mendorong agar rencana yang telah disiapkan segera diajukan ke LLDIKTI, sembari melakukan penyempurnaan selama proses berjalan.
Hal senada disampaikan Syafrudin Amien. Menurutnya, pendidikan vokasi di Riau saat ini belum sepenuhnya mampu menjawab kebutuhan tenaga kerja dari potensi industri yang ada. Ia menilai keterlibatan pemerintah dan pihak terkait diperlukan untuk membuka akses kerja sama antara lembaga pendidikan dan industri.
Remon Redila juga mengakui masih terdapat kesenjangan antara dunia usaha dengan lembaga pendidikan vokasi. Menurutnya, salah satu persoalan yang harus diselesaikan adalah belum sesuainya kompetensi pendidikan vokasi dengan target dan kebutuhan dunia usaha.
Sementara Jaswar menekankan pentingnya penyesuaian kurikulum dengan kebutuhan dunia kerja. Menurutnya, pendidikan vokasi tidak boleh hanya berorientasi pada teori dan kurikulum, tetapi harus lebih banyak membahas persoalan serta kasus nyata yang dihadapi dunia usaha.
Baca: Peserta Jamnas XII Ikuti Wisata Edukasi Sejarah dan Budaya di Jakarta
Ia juga menilai kualitas dosen menjadi salah satu kunci keberhasilan perguruan tinggi dalam menghasilkan lulusan yang kompeten.
Pertemuan tersebut menjadi bagian dari pembahasan awal pembentukan PTM Indonesia sekaligus upaya mendorong hadirnya lembaga pendidikan vokasi yang lebih dekat dengan kebutuhan industri. Konsep link and match antara kampus dan dunia usaha diharapkan menjadi bagian penting dalam pengembangan PTM Indonesia ke depan.
