Syahrul Aidi Maazat Tekankan Kemandirian Ekonomi dan Transformasi Kurikulum Pesantren di Kampar
KANALSUMATERA.com - BANGKINANG – Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dr. Syahrul Aidi Maazat, Lc., MA, menekankan pentingnya kemandirian ekonomi dan transformasi kurikulum dalam memperkuat kualitas pendidikan pondok pesantren di Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Sabtu (17/10/2026).
Hal tersebut disampaikannya saat menjadi pemateri dalam kegiatan Halaqah Pimpinan Pondok Pesantren se-Kabupaten Kampar yang berlangsung di Pondok Pesantren Daarun Nahdhah Thawalib Bangkinang.
Dalam kegiatan yang mempertemukan para pimpinan pondok pesantren tersebut, Syahrul Aidi menyoroti dua aspek penting yang perlu menjadi perhatian bersama, yakni penguatan ekonomi pesantren dan pembaruan kurikulum pendidikan agar mampu menjawab tantangan perkembangan zaman.
Baca: Dua Guru Besar UIN Jakarta Masuk Top 2% Ilmuwan Dunia 2026, Ini Prestasinya
Menurutnya, pondok pesantren tidak hanya dituntut untuk mempertahankan tradisi keilmuan Islam dan pembinaan akhlak, tetapi juga perlu membangun sistem ekonomi yang mandiri dan berkelanjutan.
Kemandirian ekonomi dinilai dapat memberikan ruang lebih luas bagi pesantren untuk mengembangkan fasilitas pendidikan, meningkatkan kesejahteraan tenaga pengajar, memperluas pelayanan kepada masyarakat, serta menciptakan unit usaha produktif yang melibatkan para santri.
Baca: Zulhas Ungkap 3 Kunci Sukses kepada 3.005 Mahasiswa Baru UMRI
Syahrul Aidi: Pesantren Harus Mandiri dan Adaptif
Dalam pemaparannya, Syahrul Aidi menegaskan bahwa penguatan ekonomi merupakan salah satu fondasi penting untuk mendukung keberlangsungan dan kemajuan lembaga pendidikan pesantren.
“Pesantren ke depan tidak cukup hanya kuat dalam tradisi keilmuan dan pembinaan akhlak, tetapi juga harus memiliki fondasi ekonomi yang kokoh,” demikian penekanan yang disampaikan dalam materi halaqah tersebut.
Baca: MAN 1 Pekanbaru Kirim Tujuh Peserta ke OSN Nasional 2026 Wakili Riau
Ia menjelaskan, unit usaha yang dikembangkan pesantren tidak semestinya hanya berorientasi pada keuntungan. Lebih dari itu, kegiatan ekonomi tersebut dapat menjadi sarana pembelajaran bagi santri untuk mengenal dunia usaha, mengembangkan keterampilan, serta membangun karakter mandiri sejak dini.
Dengan demikian, pesantren diharapkan mampu mencetak generasi yang memiliki bekal ilmu agama sekaligus kemampuan untuk berkontribusi dalam pembangunan ekonomi masyarakat.
Baca: Peserta Jamnas XII Ikuti Wisata Edukasi Sejarah dan Budaya di Jakarta
Selain kemandirian ekonomi, transformasi kurikulum juga menjadi perhatian utama dalam materi yang disampaikan anggota DPR RI tersebut.
Syahrul Aidi berpandangan bahwa pendidikan pesantren harus terus berkembang mengikuti kebutuhan zaman, tanpa meninggalkan identitas, nilai-nilai Islam, dan karakter khas pesantren yang selama ini menjadi kekuatannya.
Kurikulum Pesantren Harus Menjawab Tantangan Kehidupan
Baca: Semarak HUT Kemerdekaan RI, UPTD SDN 014 Batu Belah Gelar Pawai Bertema Pahlawan
Ia menilai, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari kemampuan santri dalam menyelesaikan ujian atau memperoleh nilai akademik yang tinggi. Pendidikan juga harus mampu membentuk pribadi yang matang secara akhlak, memiliki keterampilan, serta siap menghadapi persoalan nyata di tengah masyarakat.
“Kita ingin melahirkan santri yang tidak hanya dipersiapkan untuk menjawab soal-soal ujian, tetapi juga siap menjawab soal-soal kehidupan,” menjadi pesan penting yang ditekankan Syahrul Aidi dalam kegiatan tersebut.
Baca: Karmila Sari Dukung Konsorsium Perguruan Tinggi, Wamen Diktisaintek Tekankan Kampus Harus Berdampak
Menurutnya, santri perlu dibekali berbagai kompetensi, mulai dari pemahaman agama yang mendalam, kematangan akhlak, kemampuan berkomunikasi, keterampilan praktis, jiwa kepemimpinan, hingga kemandirian dalam mengambil peran di tengah masyarakat.
Bekal tersebut dinilai penting agar lulusan pesantren tidak hanya mampu menghadapi tantangan kehidupan, tetapi juga dapat memberikan solusi bagi berbagai persoalan sosial dan kemasyarakatan.
Karena itu, transformasi kurikulum perlu diarahkan untuk memperkuat keseimbangan antara pendidikan agama, pembentukan karakter, penguasaan keterampilan, dan pengembangan potensi santri.
Baca: Ketua PGRI Kampar Dorong Penguatan Mutu Pendidikan di Konferensi Kerja PGRI Kabupaten Kampar
Perkuat Kolaborasi Antarpesantren di Kabupaten Kampar
Melalui kegiatan Halaqah Pimpinan Pondok Pesantren se-Kabupaten Kampar, diharapkan terbangun komunikasi dan kerja sama yang lebih kuat di antara pengelola pesantren dalam meningkatkan mutu pendidikan Islam.
Baca: Hasil TKA SD SMP 2026 Disorot Kritis, Pakar: Numerasi Indonesia Bermasalah Sistemik
Kolaborasi antarpesantren dinilai penting untuk berbagi pengalaman, mengembangkan inovasi pembelajaran, memperluas peluang usaha produktif, serta merumuskan langkah bersama dalam menghadapi tantangan pendidikan pada masa mendatang.
Syahrul Aidi berharap, pertemuan tersebut dapat menjadi momentum untuk memperkuat peran pesantren dalam mencetak generasi yang berilmu, berakhlak, mandiri, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Pada akhirnya, pesantren diharapkan tetap menjadi pusat pendidikan dan pembinaan umat yang tidak hanya melahirkan generasi berpengetahuan agama, tetapi juga menyiapkan calon pemimpin masa depan yang memiliki kompetensi, integritas, dan kepedulian terhadap masyarakat. (SM)
