PISA 2025: Skor Literasi dan Sains Indonesia Naik, Akses Pendidikan Capai 90 Persen
KANALSUMATERA.com - JAKARTA — Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 menunjukkan adanya peningkatan capaian pendidikan Indonesia pada kemampuan literasi membaca dan sains. Di saat yang sama, akses anak usia sekolah terhadap pendidikan formal juga mengalami lonjakan signifikan. Rabu (09/09/2026).
Hasil PISA 2025 yang dirilis Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) melibatkan 91 negara dan ekonomi dengan lebih dari 760 ribu murid sebagai sampel. Partisipasi tersebut menjadi yang terbesar sejak PISA pertama kali dilaksanakan pada 2000.
Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikdasmen, Toni Toharudin, mengatakan capaian Indonesia patut dilihat tidak hanya dari posisi peringkat, tetapi juga dari perkembangan kemampuan peserta didik.
Baca: Mendikdasmen Siapkan Kebijakan Siswa Tak Otomatis Naik Kelas Mulai 2027
“Di tengah tren skor sains, membaca, dan matematika negara-negara OECD yang menurun selama 25 tahun terakhir, performa pendidikan Indonesia relatif stabil, bahkan Indonesia naik di literasi dan sains," jelas Toni Toharudin, Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Skor Sains dan Membaca Sama-sama Naik
Baca: SMPN 6 Siak Kecil Gelar Bimtek SPMI, Lima Sekolah Penerima BOSP Kinerja Turut Terlibat
Dalam PISA 2025, skor literasi sains Indonesia tercatat mencapai 389 atau meningkat enam poin dibandingkan PISA 2022 yang berada di angka 383.
Kenaikan enam poin juga terjadi pada kemampuan membaca. Skornya meningkat dari 359 pada PISA 2022 menjadi 365 pada PISA 2025.
Sementara itu, skor matematika Indonesia berada di angka 364.
Baca: Anggaran Pendidikan 2027 Naik, Hidayat Dorong Madrasah Dapat Porsi Adil
Peningkatan tersebut menjadi perhatian karena terjadi ketika tren capaian sains, membaca, dan matematika di negara-negara OECD justru mengalami penurunan dalam 25 tahun terakhir.
Akses Pendidikan Indonesia Melonjak
Baca: Prabowo Izinkan Dana BOS Dipakai Bayar Gaji Guru Non-ASN
Selain peningkatan skor, salah satu perkembangan penting dalam PISA 2025 terlihat dari perluasan akses pendidikan.
Hal tersebut tercermin melalui Coverage Index, yakni proporsi anak berusia 15 tahun yang masih berada dalam sistem pendidikan formal.
Pada keikutsertaan pertama Indonesia dalam PISA pada 2003, Coverage Index tercatat 0,46. Angka tersebut kemudian meningkat hampir dua kali lipat menjadi 0,90 pada PISA 2025.
Baca: Syahrul Aidi dan Hendry Munief Kompak Motivasi Mahasiswa UNRI Mandiri Sejak Kuliah
Kondisi ini menunjukkan semakin banyak anak Indonesia yang berada dalam sistem pendidikan formal. Kemendikdasmen menyebut peningkatan tersebut menjadi salah satu indikator perluasan akses pendidikan di berbagai wilayah Indonesia.
“Ini menjadi bukti perluasan akses pendidikan yang signifikan di seluruh wilayah Indonesia, termasuk sejak Indonesia beralih penuh dari moda paper based test (PBT) ke computer based test (CBT) mulai PISA 2018,” kata Toni.
Baca: Disdik Pekanbaru Tegaskan Sekolah Wajib Patuhi Kebijakan PJJ di Tengah Kabut Asap
Kemampuan Siswa Indonesia di Era Digital
Hasil PISA 2025 juga mencatat sejumlah karakteristik positif dari peserta didik Indonesia.
Direktur Pendidikan dan Keterampilan OECD Andreas Schleicher mengapresiasi kemampuan Indonesia dalam memperluas akses pendidikan tanpa mengesampingkan kualitas pembelajaran.
Baca: Zulhas Ungkap 3 Kunci Sukses kepada 3.005 Mahasiswa Baru UMRI
Data OECD menunjukkan murid berusia 15 tahun di Indonesia memiliki tingkat keingintahuan yang tinggi dan mulai mengembangkan kemampuan belajar secara mandiri.
Peserta didik Indonesia juga tercatat memiliki kemampuan yang lebih baik dalam pemecahan masalah komputasional. Selain itu, mereka lebih sering terlibat dalam proses pembelajaran yang berkaitan dengan penilaian kredibilitas konten yang dihasilkan kecerdasan artifisial atau AI.
Baca: MAN 1 Pekanbaru Kirim Tujuh Peserta ke OSN Nasional 2026 Wakili Riau
Empat Strategi Kemendikdasmen
Menindaklanjuti hasil PISA 2025, Kemendikdasmen menyiapkan empat strategi utama untuk memperkuat kualitas pendidikan nasional.
Pertama, meningkatkan kompetensi guru melalui pemenuhan kualifikasi akademik, Pendidikan Profesi Guru (PPG), serta penguatan kemampuan pedagogik dan digital, termasuk penguasaan koding dan kecerdasan artifisial.
Baca: Bahasa Asing Sejak Kelas 1 SD Jadi Sorotan DPR, Guru dan Pilihan Siswa Dipertanyakan
Kedua, meningkatkan kualitas proses pembelajaran melalui penerapan pembelajaran mendalam, digitalisasi pembelajaran, serta penguatan literasi, numerasi dan karakter peserta didik.
Ketiga, menyelaraskan kerangka Asesmen Nasional (AN) dan Tes Kemampuan Akademik (TKA) dengan kemampuan bernalar yang menjadi bagian penting dalam kerangka PISA.
Baca: Guru Masa Kini: Pahlawan Bangsa di Garis Depan Transformasi Zaman
Keempat, memperkuat keterlibatan keluarga melalui Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7KAIH) serta kemitraan orang tua dalam mendukung pembelajaran mendalam.
Kemendikdasmen juga menyiapkan berbagai platform pembelajaran dan asesmen yang dapat dimanfaatkan guru maupun murid secara mandiri. Di antaranya Perangkat Ajar Ruang GTK, Ruang Murid, serta portal simulasi dan latihan asesmen Pusmendik.
Platform tersebut diarahkan untuk memperkuat kemampuan bernalar, literasi digital dan kemandirian belajar siswa sesuai dengan tuntutan kompetensi dalam PISA.
Baca: Kemensos Target Rekrutmen 8.300 Guru Sekolah Rakyat Tuntas September
Dengan hasil PISA 2025 tersebut, peningkatan akses pendidikan menjadi salah satu capaian penting Indonesia. Tantangan berikutnya adalah memastikan perluasan akses tersebut berjalan beriringan dengan peningkatan mutu pembelajaran dan kemampuan bernalar peserta didik. (SM)
